Nasional Pemerintahan Politik Trending Topic

Sunday, 20 October 2019 - 13:54 WIB

4 weeks yang lalu

Jokowi : Menyongsong Satu Abad Tahun 2045 Menjadi Negara Maju

BANDAR LAMPUNG – Ir Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan sambutan pertamanya usai dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden Periode 2019-2024 oleh Majelis Permusawartaan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Jakarta, Minggu (20/10).

Dalam Sambutan kenegaraan Jokowi sapaan akrab presiden ke- 9, menggambarkan situasi Republik Indonesia dalam menyongsong satu abad di Tahun 2045 mendatang.

Presiden Jokowi mengatakan, Mimpi kita, cita-cita kita di tahun 2045 pada satu abad Indonesia merdeka mestinya, Insya Allah, Indonesia telah keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah.

Indonesia telah menjadi negara
maju dengan pendapatan menurut hitung-hitungan Rp 320 juta per kapita per tahun atau Rp 27 juta per
kapita per bulan.

Itulah target kita. Target kita bersama. Mimpi kita di tahun 2045, Produk Domestik Bruto Indonesia mencapai US$ 7 triliun.

Menurut Jokowi mantan gubernur DKI Jakarta itu disela pidatonya, Indonesia sudah masuk 5 besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen. Kita harus menuju ke sana.

“Kita sudah hitung, sudah kalkulasi, target tersebut sangat masuk akal dan sangat memungkinkan untuk kita capai. Namun, semua itu tidak datang otomatis, tidak datang dengan mudah”, ujar Presiden Jokowi.

Namun, cita-cita kita, Harus disertai kerja keras, dan kita harus kerja cepat, harus disertai kerja-kerja bangsa kita yang produktif.

Dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, dan yang kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru.

Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas yang monoton.

Harusnya, inovasi bukan hanya pengetahuan, Inovasi adalah budaya.

Presiden Jokowi bercerita tentang kondisi yang dimana ia tidak mau tepaku kerja dalam satu titik.

“Cerita sedikit, tahun pertama saya di istana, saat mengundang masyarakat untuk halalbihalal, protokol meminta saya untuk berdiri di titik itu, saya ikut”, ulasnya.

Ditahun kedua, halalbihalal lagi di istana negara, protokolpun meminta dirinya berdiri di titik yang sama, di titik itu lagi.

“ Langsung saya bilang ke Mensesneg, Pak, ayo kita pindah lokasi. Kalau kita tidak pindah, akan jadi kebiasaan. Itu akan dianggap sebagai aturan dan bahkan
nantinya akan dijadikan seperti undang-undang.”pintanya.

Hal itulah baginya, inovasi dalam bekerja untuk negara jangan berkutat disatu sisi, persoalan negara hasilnya yang diutamakan, bukan pesan.

Akhirnya, kerja yang monoton dan menjadi rutinitas. Sekali lagi, Sabung Jokowi mendobrak rutinitas adalah satu hal, Meningkatkan produktivitas adalah hal lain yang menjadi prioritas.

“Jangan lagi kerja kita berorientasi
proses, tapi harus berorientasi pada hasil-hasil”, Pungkasnya (DN)

Artikel ini telah dibaca 54 kali

Baca Lainnya