Hukum dan Kriminal Nasional Pemerintahan Trending Topic

Sunday, 7 February 2021 - 23:31 WIB

6 months yang lalu

Dalam BAP : Pusaran Dugaan Tipu Gelap Fee Proyek Mencapai Dua Miliar Lebih, Mantan KRTRD Siap Jika di Pertemukan Dengan Wakil Bupati Pringsewu

PRINGSEWU – Hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Tersangka dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan oleh Bambang Urip Tri Martono, pada Hari Jumat, Tanggal, Lima Febuari, Tahun 2021, sekitar Jam 14.00 WIB yang digelar oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum melalui Dua Penyidiknya pada Kantor Polisi Daerah Lampung.

Terjadinya dugaan tipu gelap tersebut dalam BAP tersangka, di sebutkan sejak 2018 lalu.

Bambang Urip Tri Martono merupakan Mantan Kepala Rumah Tangga Rumah Dinas Wakil Bupati Pringsewu.

Dalam kutipan BAP, Bambang Urip Tri Martono dihadapan penyidik membeberkan sejumlah besaran aliran uang yang diterimanya dari Ajaruddin.

Sejumlah aliran uang yang diterimanya cukup fantastis nilainya, sebesar Rp 2 Miliar lebih, rincian besaran uang tersebut, berdasarkan dari bukti sembilan lembar kwitansi dari terlapor Ajaruddin.

Dihadapan penyidik Polda Lampung, Bambang menyatakan siap di hadapkan dengan mantan atasannya dimana ia pernah berkerja dulu dan dirinya bersumpah atas keterangannya.

Hal itu, diungkapkan Bambang usai menjalani pemeriksaan yang ketiga.

Dalam panggilan ketiga kalinya, Bambang Urip Tri Martono tidak sendirian, Namun, didampingi kuasa hukumnya.

“Ya klien kami Bambang Urip Tri Martono, sudah di tetapkan tersangka pada pemeriksaan 18 Januari 2021 lalu, Kemarin, Jumat, (05/02) kembali menjalani pemeriksaan lanjutan untuk ketiga kalinya,” kata Yalfa Sabri, SH. Sabtu, 6 Februari 2021.

Masih kata Yalfa Sabri menjelaskan, kliennya di periksa sebanyak 27 pertanyaan, pertanyaan-pertanyaan itu seputar asal mula kasusnya mencuat, dan siapa yang memerintah dirinya, apakah atas inisiatifnya atau ada yang menyuruh.

Selain itu, terkait tempat dimana menerima uang yang diberikan Ajaruddin kepadanya (Bambang Urip Tri Martono) hingga aliran uang.

“Klien kami menyatakan bahwa dia adalah selaku kepala rumah tangga Wakil Bupati waktu itu, diberikan tugas pengawalan dan melayani keperluan dari Wakil Bupati, dan tidak ada tugas dan kewenangan untuk mengurus dan mendapatkan paket proyek di Kabupaten Pringsewu”, jelas Yalfa kepada media ini, saat mengutip keterangan BAP kliennya.

Namun, kata Yalfa, Bambang Urif Tri Martono, menjanjikan paket proyek kepada Ajarudin alias Aan, sebagai pelapor. Karena, apa yang dilakukannya di perintahkan atau disuruh oleh Wakil Bupati H Fauzi.

Lanjutnya, menurut Bambang sapaan tersangka dalam berita acara pemeriksaannya, Fauzi selaku Wakil Bupati sedang mencari dana.

Dana itu nantinya, akan dibayarkan dengan paket pekerjaan proyek di Kabupaten Pringsewu pada anggaran tahun 2018, dengan sistem dipotong 18% dari nilai paket pekerjaan proyek.

“Karena itulah kemudian Bambang meminta dan menerima sejumlah uang dari Ajarudin yang dikenal sejak Tahun 2000an”, bebernya.

Awalmulanya, lanjut Yalfa, Bambang di panggilan oleh Wakil Bupati H Fauzi, dan mengatakan tolong carikan dana dan nanti akan dibayarkan dengan paket pekerjaan proyek di Kabupaten Pringsewu tahun 2018 dengan sistem dipotong 18% dari nilai paket pekerjaan proyek.

“Bambang pun menyatakan akan mencarikan, lalu Bambang, kemudian bertemu Ajaruddin dengan janji akan menangani paket pekerjaan”, jelasnya.

Kemudian, Bambang menerina uang dari Ajaruddin secara bertahap, termasuk mobil dengan total sebesar Rp 2,150 miliar, dengan sembilan kali transaksi.

“Delapan kali di kamar pribadinya Bambang dirumah dinas wakil bupati, dan satu kali di rumah Ajaruddin”, kata Yalfa dalam keterangan BAP Bambang.

Dari rentetan penerimaan uang dari Ajaruddin, yang dituangkan dalam Berita acara pemeriksaan Bambang Urip Tri Martono dirincikan sebagai berikut.

Pertama kali, Bambang menerima uang dari Ajaruddin pada tanggal 17 April, 2018 di kamar pribadi Bambang dirumah dinas wakil bupati sebesar Rp 150 juta.

Ke Dua, pada tanggal 8 Mei, 2018 juga di kamar pribadi Bambang rumah dinas Wakil Bupati Rp 100 juta.

Ke Tiga, Tanggal 16 Mei, 2018 Rp50 juta.

Ke Empat, Tanggal 31 Mei, 2018 sebesar Rp 150 juta, Lalu yang kelima kalinya, Tanggal 06 Juni, 2018 di rumah Ajaruddin, di Desa Wates Gading Rejo Pringsewu sebesar Rp 300 juta.

Selanjutnya, Tanggal 10 Juni, 2018 sebesar Rp 450 juta, yaitu nilai satu unit mobil R4 Merk Toyota VELLFIRE 2.4 AT Tahun 2008 Warna Hitam B-315-HD.

Selanjutnya, Tanggal 15 Juni, 2018 sebesar Rp 350 juta, Kedelapan tanggal 27 Juni, 2018 sebesar Rp 400 juta. Teerakhir pada Tanggal 1 Juli 2018 sebesar Rp200 juta.

“Setiap uang yang diterima dari Ajaruddin dilaporkan kepada Dewi dan Wakil Bupati, termasuk soal mobil, Vellfire itu”, ungkapnya.

Menurut Bambang mobil itu selama itu dipergunakan keperluan wakil Bupati sambil menunggu serah terima, dan setelah itu digunakan untuk antar jempat ibu wakil bupati.

Bambang menceritakan Ajarudin menyerahkan uang tersebut dibungkus kantong plastik warna hitam, lalu kemudian diserahkan ke Wakil Bupati Pringsewu.

“Bambang mengaku tidak ada disimpan, Namun, klien kami mengakui bahwa saat menyerahkan uang kepada Wakil Bupati tidak ada bukti, tapi Bambang berani bersumpah,” ujarnya.

Bambang menceritakan bahwa setelah menerima dan memegang uang dari Ajaruddin langsung dilaporkan kepad Wakil bupati, dan kemudian diperintahkan untuk di letakkan di dalam kamar pribadi wakil bupati, dan diletakkan dibupet tempat kosmetik.

Selama menerima uang itu, Bambang mengaku hanya pernah diberi upah sebesar Rp 600 ribu, yang diberikan langsung oleh Wakil Bupati, dan uang itu sudah habis digunakan untuk makan dan beli bensin kendaraan.

Bambang pun mengaku pernah diperintahkan memberikan uang Rp 5 juta untuk Sudewi, untuk dibelikan Hadroh (Alat Rebana).

Kemudian, diperintahkan menyerahkan uang Rp25 juta kepada Eko, kepada Kinoi Rp15 juta. Menurut bambang Sudewi adalah tim pemenangan pemilihan wakil bupati, yang juga Dosen di STMIK Pringsewu.

Eko adalah tim pada saat pemilihan Wakil Bupati, dan Kinoi adalah tim relawan yang mencari suara di daerah Gading Rejo.

Bantah Dan Ancam Laporkan Bambang

Sementara Wakil Bupati Pringsewu Fauzi melalui kuasa hukumnya Wilius Prayitno mengatakan, bahwa tidak ada tugas dan kewenangan dari kliennya.

Baik secara tertulis maupun lisan kepada yang bersangkutan (Bambang Urip Tri Martono, red) untuk mengurus prihal proyek apalagi terkait tuduhan yang dituduhkan.

“Itu hanya asumsi yang bersangkutan belaka, dan tidak mempunyai landasan hukum yang kuat”,kata Willius.

“Itukan hanya asumsi yang bersangkutan, tidak ada ada bukti materiil kepada klien kami terkait pengakuannya tersebut”, kata Wilius, yang dikonfirmasi via pesan singkat whatshapp masseger, Sabtu 6 Februari 2021 kemarin.

Wilius meminta, terlapor agar berhati hati bicara nanti ada implikasi hukum.

“Kami akan mempertimbangkan para pihak yang menyebarkan asumsi yang sepihak tersebut ke ranah hukum. Kami bisa laporkan dengan pasal fitnah dan pencemaran nama baik. Pasal 310 dan 311 Kuhpidana dan pasal 27 UU ITE. Kami peringatkan kepada pihak pihak yang patut diduga menyebar fitnah tersebut agar tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum”,Pintanya. (DN/MAN)

Artikel ini telah dibaca 603 kali

Baca Lainnya